zoom-tutorial.blogspot.com
tutorial ngeblog | trik adsense | tutorial pemula | trik | tips | tutorial komputer
Dalam sejarah kesusasteraan Tiongkok, orang selalu melukiskan hasil tertinggi syair dinasati Tang (618-- 907) dengan menyebut “Li dan Du” sebagai wakilnya. Di sini, yang disebut Li adalah Li Bai, yakni “Dewa Syair” yang terkenal di dunia, sedangkan Du adalah Du Fu yang dinamakan “Begawan Syair”.
Du Fu yang dilahirkan pada tahun 712 adalah cucu Du Shenyan, seorang penyair terkenal. Sejak masa kanak-kanak Du Fu telah menunjukkan kecerdasannya. Ia sangat tekun belajar, sedang anggota-anggota keluarganya adalah kaum cendekia yang mempunyai pengetahuan luas. Sejak umur 7 ia sudah bisa membuat syair dan setelah dewasa sangat mahir di bidang kaligrafi, melukis, musik, menunggang kuda dan bermain pedang. Du Fu pada masa mudanya mengemban cita-cita besar, dan pada usia 19 tahun sudah mulai mengadakan perjalanan keliling ke seluruh negeri, hidup romantis dengan mengembara mengikuti seruan hatinya. Masa itu justru merupakan masa jaya Dinasti Tang. Du Fu telah memperluas cakrawala pengetahuannya dengan mengunjungi banyak gunung dan sungai yang terkenal. Dalam kehidupan mengembara itu ia telah menulis bait-bait terkenal yang abadi sepanjang masa dalam sajaknya yang antara lain berbunyi: “Sesaat mendaki sampai di puncak, sejauh memandang seribu bukit terasa kerdil.”
Sebagaimana banyak sastrawan lain, Du Fu ingin mencapai kemajuan dalam karier politik. Untuk itu, ia terus menerus menulis syair dan karangan memenuhi selera kaum elite berkuasa serta mengiktui ujian negeri, namun upayanya itu terus menerus mengalami kegagalan. Pada usia setengah baya, Du Fu hidup serba kekurangan di Chang’an, ibu kota Dinasti Tang. Ia menyaksikan sendiri kemewahan yang berlimpahan dan foya-foya kalangan penguasa serta pemandangan menyedihkan di mana kaum miskin papa mati bergelimpangan di pinggir jalan karena kedinginan dan kelaparan. Menyaksikan ketidak adilan masyarakat itu, ia memekik dalam bait-bait yang berbunyi “Di rumah si kaya arak dan daging membusuk, sedang di pinggir jalan tergeletak bangkai manusia kedinginan.” Kegagalan dan kekecewaan dalam karier politik serta rongrongan kehidupan yang berat telah membuka mata Du Fu untuk menyadari kekorupan penguasa dan penderitaan rakyat, sehingga ia berangsur-angsur menjadi seorang penyair yang peduli akan nasib negara dan penderitaan rakyat.
Pada tahun 755, Du Fu yang berusia 43 akhirnya memperoleh posisi sebagai pejabat, tetapi baru satu bulan, kekacauan perang sudah berkecamuk. Sejak itu, kekacauan perang tidak pernah berhenti. Dalam kurun waktu itu, Du Fu kenyang menderita kesengsaraan dalam penghidupan mengelana terlunta-lunta, dan ini telah membuatnya lebih jelas mengenal realitas. Pada masa itulah ia telah menulis syair-syair yang terkenal seperti “Pejabat Shihao”, “Pejabat Tongguan” dan “Pejabat Xin’an”, serta syair-syair “ Perpisahan Pengantim Baru” “Perpisahan Lanjut Usia” dan “Perpisahan Tanpa Tempat Berteduh” untuk menyatakan rasa simpati mendalam penyair terhadap rakyat dan kebenciannya terhadap perang.
Pada tahun 759, Du Fu meletakkan jabatan karena sangat kecewa terhadap politik. Pada waktu itu, Chang’an sedang dilanda bencana kemarau. Du Fu yang miskin sulit mempertahankan hidup dan terpaksa membawa keluarganya mengungsi ke Chengdu di Tiongkok barat daya. Dengan bantuan temannya, ia hidup mengasingkan diri selama 4 tahun. Dalam kemiskinan itulah, Du Fu telah menulis sajak “Rumah Gubuk Hancur Ditiup Angin Kencang Musim Rontok”. Dalam sajak itu ia melukiskan kehidupan miskin papa keluarganya. Dari pengalaman hidupnya sendiri ia membayangkan penderitaan yang dialami orang lain, dan menyatakan dambaan keras agar dibangun beribu-ribu rumah bagi kaum miskin untuk tempat berteduh, bahkan rela mengorbankan diri untuk kebahagiaan kaum miskin di seluruh negeri. Dengan kata-kata yang lahir dari lubuk hati, Du Fu menunjukkan semangatnya yang luhur.
Pada tahun 770, Du Fu yang berusia 59 tahun meninggal dalam perjalanan pengungsian dirundung kemiskinan dan sakit. Du Gu telah meninggalkan lebih dari 1.400 sajak. Sajak-sajak itu secara mendalam telah mencerminkan wajah sosial Dinasti Tang dari jaya menuju kemerosotan melalui kekacauan perang selama 20 tahun lebih. Sajak-sajak itu mencakup tema yang luas bagai sebuah epik. Sajak-sajak Du Fu beraneka ragam gayanya, menyerap keunggulan penyair-penyair lain, memadukan ekspresi perasaan, catatan perjalanan dan komentar, isilnya luas dan mendalam, perasaannya tulus, memusatkan keberhasilan penciptaan syair klasik di bidang seni, memperbaharui dan mengembangkannya sehingga telah sangat memperluas bidang syair dalam isi maupun bentuknya, dan telah memberikan pengaruh yang luas kepada generasi sesudahnya

Copyright 2009 zoom tutorial | tutorial blog | Blogging Pro Blogger | Designed by Design Disease And re-edit By Ahmad Yulianto